TAFSIR, TRADISI DAN BUDAYA LOKAL
KRITIK ATAS DIKOTOMI TRADISIONAL DAN MODERN DALAM PEMIKIRAN ISLAM
Keywords:
Tafsir Al-Qur’an, tradisi, budaya lokal, pemikiran Islam, tradisional, modernAbstract
Abstract: This article discusses the relationship between Qur'anic interpretation, tradition and local culture within the framework of criticism of the traditional and modern dichotomy commonly used in Islamic thought studies. This dichotomy is often treated as an evaluative category that simplifies the complexity of interpretive practices, especially when dealing with religious practices based on local culture. Through a critical-qualitative approach and conceptual analysis, this article views interpretation not only as a textual intellectual product, but also as a social practice that lives within the religious experience of Muslims. The results of the study show that the practice of interpretation in local traditions and cultures involves a dynamic, reflective, and contextual process of negotiating meaning, so that it cannot be reduced to a static or inferior form of religiosity. This article argues that the traditional and modern dichotomy has analytical limitations in reading the relationship between text, interpretation, and culture and has the potential to produce a hierarchy of knowledge in Islamic thought. Therefore, a more dialogical and contextual approach is needed to understand the dynamics of interpretation and religious practices of Muslims more comprehensively.
Abstrak: Artikel ini membahas relasi antara tafsir Al-Qur’an, tradisi dan budaya lokal dalam kerangka kritik terhadap dikotomi tradisional dan modern yang lazim digunakan dalam studi pemikiran Islam. Dikotomi tersebut sering kali diperlakukan sebagai kategori evaluatif yang menyederhanakan kompleksitas praktik penafsiran, terutama ketika berhadapan dengan praktik keagamaan berbasis budaya lokal. Melalui pendekatan kualitatif-kritis dan analisis konseptual, artikel ini memandang tafsir tidak hanya sebagai produk intelektual tekstual, tetapi juga sebagai praktik sosial yang hidup dalam pengalaman keberagamaan umat Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik tafsir dalam tradisi dan budaya lokal mengandung proses negosiasi makna yang dinamis, reflektif dan kontekstual, sehingga tidak dapat direduksi sebagai bentuk keberagamaan yang statis atau inferior. Artikel ini berargumen bahwa dikotomi tradisional dan modern memiliki keterbatasan analitis dalam membaca relasi antara teks, tafsir dan budaya, serta berpotensi memproduksi hierarki pengetahuan dalam pemikiran Islam. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih dialogis dan kontekstual untuk memahami dinamika tafsir dan praktik keagamaan umat Islam secara lebih komprehensif.





