MEMAKNAI NGITUNG BATIH DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT EKSISTENSIAL DAN KOLEKTIVITAS SOSIAL
Keywords:
Ngitung Batih , Filsafat Eksistensial, Kolektivitas Sosial, Identitas Budaya, TrenggalekAbstract
Tradisi Ngitung Batih di Dongko, Trenggalek merupakan praktik budaya lokal yang dilakukan masyarakat untuk menelusuri garis keturunan hingga beberapa generasi ke atas. Secara adat, tradisi ini berfungsi untuk mengetahui asal-usul keluarga, menjalin kembali hubungan antartrah, serta memperkuat struktur kekerabatan. Namun lebih dari itu, tradisi ini juga memuat refleksi filosofis tentang makna keberadaan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan tradisi Ngitung Batih melalui pendekatan filsafat eksistensial dan kolektivitas sosial.
Dengan menggunakan metode kualitatif-hermeneutik, penelitian ini menelaah Ngitung Batih sebagai praktik budaya yang mengandung dimensi eksistensial yakni upaya individu memahami asal-usul dan identitas dirinya serta dimensi kolektif yang memperlihatkan pentingnya relasi sosial dan kesadaran komunal dalam budaya Jawa. Hasil kajian menunjukkan bahwa Ngitung Batih menjadi sarana pengakuan akan keterikatan manusia pada sejarah leluhur, sekaligus bentuk tanggung jawab moral terhadap keluarga besar dan masyarakat. Dalam konteks ini, Ngitung Batih tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian adat, tetapi juga sebagai refleksi filosofis atas keberadaan manusia dalam jaringan kehidupan sosial.





