MAKNA SIMBOLIK ADAT GARA’I DI KECAMATAN BUNTULIA KABUPATEN POHUWATO

Authors

  • Fatrawati Hippy a:1:{s:5:"en_US";s:25:"Aqidah dan Filsafat Islam";}
  • Muh. Rusli IAIN Sultan Amai Gorontalo
  • Nazar Husain Hadi Pranata Wiba IAIN Sultan Amai Gorontalo

Keywords:

Makna Simbol,, Adat Gara’i, Buntulia

Abstract

Penelitian yang berjudul “Makna Simbol Adat Gara’i di Kecamatan Buntulia Kabupaten Pohuwato” Dengan Rumusan Masalah (1) Bagaimana proses adat Gara’i di Kecamatan Buntulia (2) Bagaimana makna dan simbol adat Gara’i di Kecamatan Buntulia. Dengan tujuan melihat proses dan makna simbol adat gara’i di kecamatan patilanggio kabupaten pohuwato. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif, dengan pendekatan fenomenologi, pada pengumpulan data peneliti mengumpulkan data dari informan yang telah ditetapkan sesuai dengan pendekatan dan jenis penelitian. dengan sumber datanya dari dua sumber yakni: data primer dan data sekunder. Hasil penelitian ini di temukan beberapa hal sebagai berikut: Gara’i merupakan upacara adat pemberian gelar kepada orang yang telah wafat sebagai bentuk penghormatan dan juga apresiasi terhadap jasa-jasa kebaikan semasa hidupnya. Pada proses Gara’i ada mopobulito (mengatur formasi duduk), baate (ketua adat), meminta izin (molubo) kepada eeyanggu untuk segera memulai upacara penobantan gelar adat. Mopodidi atau pemasangan simbol duka oleh baate atau wu’u kepada eeyanggu. Kemudian musyawarah pemberian gelar adat. Sedangkan makna dan simbol adat garai yakni: Tolotihu atau tangga adat yang menjadi tempat berpijak tamu yang datang dalam upacara penobatan. Jaramba atau jalamba adalah pagar pembatas tempat duduk dalam upacara pemberian gelar adat, Ngango lo huwayo dikenal dengan mulut buaya yang dipasang kanan kiri tolotihu bermakna benteng penjagaan keamanan dan penolak bala. Pohon pinang atau dungo lo luhuto bermakna wujud perlindungan, Dan didi adalah simbol duka mengandung makna tiada yang kekal dan semua akan merasakan mati.

Downloads

Published

2025-11-04