KONSEP ISTIHADHAH DALAM HADIS NABI SAW. DAN LITERATUR FIKIH: ANALISIS HUKUM DAN PRAKTIK IBADAH

Authors

  • Noval Runtukahu IAIN SULTAN AMAI GORONTALO
  • Muhammad Zaenal Usman IAIN Sultan Amai Gorontalo
  • Misbahuddin Asaad IAIN Sultan Amai Gorontalo

Keywords:

Istihadhah, Fikih Wanita, Thaharah

Abstract

 

Istihadhah merupakan kondisi keluarnya darah dari farji wanita di luar periode haid yang normal, baik ditinjau dari aspek waktu, jumlah, maupun sifat darahnya. Fenomena ini memiliki implikasi yang signifikan terhadap status ibadah perempuan, khususnya berkaitan dengan keabsahan shalat, puasa, serta hubungan suami-istri, sehingga menuntut adanya kejelasan hukum yang berlandaskan dalil-dalil syar‘i yang sahih dan otoritatif. Ketidaktepatan dalam memahami istihadhah berpotensi menimbulkan kekeliruan dalam praktik ibadah, baik dalam bentuk kelalaian maupun sikap berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep istihadhah dari perspektif fikih dan hadis, meliputi pengertian istihadhah, kriteria pembedaan antara darah haid dan darah istihadhah, serta ketentuan pelaksanaan ibadah bagi wanita yang mengalaminya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis kepustakaan dengan merujuk pada kitab-kitab hadis primer beserta syarahnya, serta literatur fikih dari empat mazhab yang muktabar. Hasil kajian menunjukkan bahwa para ulama sepakat istihadhah tidak menghalangi keabsahan shalat dan puasa, namun mewajibkan tata kelola thaharah tertentu sebelum melaksanakan ibadah. Perbedaan pendapat di kalangan ulama muncul dalam penentuan batas maksimal haid dan metode membedakan jenis darah, tetapi keseluruhannya bermuara pada prinsip kemudahan (taisir) dalam syariat Islam guna menjaga keberlangsungan dan konsistensi ibadah wanita mustahadhah. Dengan demikian, kajian ini menegaskan urgensi pemahaman istihadhah secara komprehensif agar perempuan tetap menjalankan ibadah secara benar dan proporsional sesuai tuntunan syariat.

References

Muhammad Utsman, Lanatun Nisa’, (Mojokerto: Petok, t.t.), hlm. 29.

HR. Bukhari dan An-Nasa’i, Kitab Al-Haid, Bab Al-Istihadhah.

Aisyah binti Abu Bakar, Shahih Bukhari, Kitab Al-Haid, Bab Al-Istihadhah; An-Nasa’i, Al-Sunan al-Kubra, Bab Al-Istihadhah, hlm. 122–123.

Istihadhah dan Problematikanya dalam Kehidupan Praktis Masyarakat, Cendekia: Jurnal Studi Keislaman 1, no. 1 (2015): 1–15,

Abu Zakariya Yahya An Nawawi, Minhaju at Tholibin wa „Umdatu al Muftiin, (Dar al Fikr: Bairut, 2010)

afinatun Naja: Seputar Hukum Haidh dan Nifas. rumaysho.com. https://rumaysho.com/31076-safinatun-naja-seputar-hukum-haidh-dan-nifas.html

AL-KAFI #1846: SEMPURNAKAN BAKI SUCI ANTARA HAID.” Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan, 17 November 2021. https://muftiwp.gov.my/ms/artikel/al-kafi-li-al-fatawi/5060-al-kafi-1846-sempurnakan-baki-suci-antara-haid

Lima Jenis Darah Nifas dalam Fiqih. NU Online, 29 Oktober 2022.

Mardia Mazri, “Fenomena Istihadhah dalam Perspektif Fikih dan Hadis,” Jurnal Ilmiah Studi Islam, Vol. 5 No. 2 (2021), hlm. 45.

Mardia Mazri, “Hukum Shalat dan Puasa bagi Wanita Mustahadhah: Analisis Fikih Kontemporer,” Jurnal Ilmiah Studi Islam, Vol. 6, No. 1 (2022), hlm. 52.

Imam al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Haid, Hadis No. 304, Beirut: Dar al-Fikr, 1997, hlm. 210.

Ahmad Fauzi, “Kajian Fikih Kontemporer tentang Istihadhah pada Wanita,” Jurnal Hukum dan Studi Islam, Vol. 4, No. 2 (2021), hlm. 78.

Ibn Hibban, Sahih Ibn Hibban, Hadis No. 4500; Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala al-Sahihain, Hadis No. 3421.

Imam Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, Hadis No. 15779, Beirut: Dar al-Fikr, 1998, hlm. 342;

iti Aisyah, “Analisis Hukum Shalat dan Puasa bagi Wanita Mustahadhah dalam Perspektif Fikih Kontemporer,” Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Islam, Vol. 3, No. 1 (2020), hlm. 47.

Downloads

Published

2024-12-10