Mystical Pathways to Ecological Harmony
Kata Kunci:
Sufisme Hijau; etika lingkungan; mistisisme Islam; ekologi spiritual; kesadaran ekologisAbstrak
Di tengah percepatan degradasi lingkungan, eksplorasi terhadap kerangka spiritual dan etis yang mendorong keseimbangan ekologi menjadi semakin penting. Sufisme Hijau, sebagai interpretasi kontemporer dari mistisisme Islam klasik, menawarkan kesadaran ekologis yang mendalam, berakar pada kosmologi sakral, disiplin spiritual, dan penghormatan terhadap seluruh ciptaan. Penelitian ini meneliti dimensi-dimensi ekologis dalam ajaran Sufi, dengan menekankan bagaimana prinsip-prinsip inti seperti tawḥīd (kesatuan ilahi), ḥub (cinta ilahi), dhikr (zikir/pengingatan), dan khalīfa (khalifah/pemelihara) membentuk etika lingkungan yang melampaui paradigma utilitarian modern. Dengan merujuk pada teks-teks klasik Sufi, puisi, dan praktik spiritual, studi ini mengeksplorasi bagaimana Sufisme membangun visi holistik tentang alam sebagai manifestasi dari Yang Ilahi. Karya-karya para sufi seperti Rūmī, Ibn 'Arabī, dan al-Ghazālī menekankan keterhubungan ontologis yang menghapuskan dikotomi antara dunia manusia dan non-manusia. Sufisme Hijau mendorong kembalinya harmoni batin sebagai sarana penyembuhan dunia luar, serta menghubungkan kesadaran ekologis dengan kebangkitan spiritual. Selanjutnya, makalah ini juga menelaah gerakan-gerakan Sufi kontemporer dan inisiatif lingkungan yang mengintegrasikan praktik-praktik tradisional seperti retret sunyi di alam, berkebun meditatif, dan gaya hidup berkelanjutan sebagai bagian dari aktivisme ekologis mereka. Dengan menggabungkan teologi mistik dan keprihatinan lingkungan modern, Sufisme Hijau menawarkan pendekatan terhadap keberlanjutan yang kaya secara spiritual dan kokoh secara etis. Pendekatan ini menantang model eksploitasi yang dominan dan mengajak umat manusia untuk membayangkan kembali posisinya dalam tatanan alam bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai penjaga yang sadar. Studi ini menyimpulkan bahwa jalan Sufi, ketika dikaji kembali melalui perspektif ekologis, dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap diskursus global tentang etika lingkungan, ekologi spiritual, dan kehidupan berkelanjutan tidak hanya dalam bentuk kritik, tetapi juga sebagai tawaran alternatif berbasis kasih sayang bagi planet yang tengah mengalami krisis.

